Kau yang Tertulis (3)

Waktu berlalu tanpa menunggu yang tercinta dan melindas mereka yang terus membiarkan diri dalam luka nestapa. Tak ku biarkan waktu menantang ku dengan tangan terbuka dan air mata kecewa.

Maka engkau pun tetap ku nanti.

Pagi ini nenek kedatangan banyak tamu. Tak seperti biasa. Tamu yang ku maksud tentu saja adalah para cucu beliau yang ingin bermanja dan bersama di dekatnya. Tapi tidak denganku. Aku tersenyum.

Adik sepupu terangan minta diramal jodohnya dan nanti akan hidup seperti apa. Dasar cewek masih suka hal-hal yang membumbung imajinasi. Ku tatap saja mereka berdua.

Ku lihat adikku senyum sumringah. Pasti ramalannya enteng banget, pikirku. Tentang calon suami yang kaya, rumah yang megah dan anak yang banyak. Hasil ramalan yang tentu diinginkan setiap pribadi penuh khayal dan itu cukup membuat mereka bahagia meski belum tentu terjadi.

Aku berusaha tidak tertarik dalam aksi mereka namun terlambat. Adikku berbisik dan menawariku kepada nenek. Aku harus diramal dan dia ingin tahu hasilnya seperti apa. Aku berpura tak mendengar dan tetap menatap ponsel. Akting sms-an.

Nenek memegang tangan kiriku. Membuka seluas-luasnya dan menyeruak setiap garis. Aku diam saja. Entah apa yang beliau pikirkan sampai keningnya berkerut dan pandangannya lama banget.

Entah benar atau tidak, mereka bilang nenekku jago meramal. Setidaknya selalu hampir tepat. Buktinya adalah abang sepupuku yang menikah dengan orang luar sumatera telah diprediksi oleh nenek. Walaupun begitu tetap kita tak boleh percaya padaa ramalan. Tak boleh meramal dan dilamar serta mendatangi paranormal. Haram!

“Buka lebih lebar” perintah Nenek

Aku membuka lebih lebar lagi telapak tangan kiriku. Nenek mengamati dengan jarak yang sangat dekat seakan-akan kacamata beliau tak berfungsi. Beliau terus menelusuri setiap garis tanganku, membaca dan merumuskan dengan ilmunya.

Nenek bertanya apakah aku sedang dekat dengan seseorang. Aku kaget.

“Dengan teman gadis?”tanyaku

Beliau diam. Berarti iya. Aku berkeringat dingin. Aku khawatir beliau menbaca pikiranku. Melihat nenek saat ini membuat ku teringat dengan para magician di televisi. Teleport, mind reading, de javu, trance dan semua istilah aneh lainnya.

Nenek bilang aku sangat dekat dengan gadis itu dan cuma dia. Tak bisa disebut sebagai sekedar teman. Bahkan nenek yakin aku berharap padanya.

Ups…

Aku harus menghentikan aksi meramal ini. Aku mencoba bertanya tentang profesi di masa depan nanti. Nenek pun menjawab dengan detail banget seakan dia sedang membaca buku cerita bergambar di telapak tanganku. Bla bla bla bla

“Bagaimana keturunanku nanti?”
“Bagaimana keuangan?”
“Bagaimana bila bagaimana dan bagaimana……………”

***

Mohon Kritik, Saran dan Koreksi...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s