Senja Syahdu

Senja ini diantara syahdu udara sore yang bernyanyi. Diiringi panorama burung-burung yang meliuk-liuk indah di angkasa. Tenang, damai, mendengar alam bernyanyi layaknya vokal grup yang saling melengkapi. Subhanallah…. Maha suci ALLAH yang menciptakan alam sedemikian indah ini.
“Ti….!” teriak seorang dari arah belakangku yang sangat aku kenal

Yudi namanya. Dia sahabat dekatku. Dia yang pertama kali mengajakku di tepi panorama indah sore ini setahun yang lalu. Aku hanya tersenyum menatapnya. Dia datang menghampiriku.

“Sudahlah. ALLAH pasti punya rencana indah buatmu”
“Aku percaya itu. Tapi…..”

* * *

“Yudi kau cinta aku?”
Yudi berhenti melangkah, membalikkan badannya. Segera ia melepaskan toga wisuda. Lama sekali ia menatapku.
“Tentu saja untuk saat ini, iya”
“Sebesar apa?” tanyaku lagi

“Cukup besar jadi jerawat bila kau tolak” bisiknya
“Gimana kalo aku menikah dengan orang lain?”
“Pastikan orang itu tahan api, tahan pukulan dan kebal peluru”

Yudi berlalu meninggalkanku.
Aku terbangun dari mimpi aneh ini. Badanku berkeringat. Ku lihat jam dinding yang menunjuk pada angka 2. Aku belum shalat isya. Ah mimpi itu…..

* * *

Yudi, teman satu kampus tapi beda jurusan. Setiap kuliah aku pasti bertemu dia. Seharusnya aku tak boleh tertarik padanya. Cukuplah dia menjadi sahabatku, selalu membantuku dan mengisi hari-hariku dengan gayanya yang kampungan. Dia pemuda yang sederhana.
Mungkin dalam beberapa tahun terakhir aku selalu melewati hari-hari bersamanya. Bebrangi cerita kelulusan SMA, bermain di kebunku dan pernah juga aku diajak ke rumahnya. Aku baru tahu bahwa ada akses tersembunyi menuju loteng rumahnya dan di atap kami sering bercerita dan berdiskusi dengan adiknya juga.

Suatu malam aku mencoba merenungi apa maunya hati ini. Benar juga, kenapa harus aku merasa tersiksa dengan perasaanku kepadanya. Aku juga tidak tahu apa Yudi juga tertarik padaku. Dan semua pikiran maksiat ini akan segera terhapus. Aku wanita, tak mungkin jujur duluan.
Apakah cinta dan persaan menyayangi harus terucap dan terikat pada satu pernyataan? Bagiku cinta adalah kesadaran. Kesadaran yang meyakinkan bahwa kita semua adalah insan. Maka cinta tak akan menjauh. Apakah setiap cinta adalah jodoh? Aku kembali tersesat dalam roda waktu. Harapku melambai, membuana raga.

* * *
Awal tahun ini
Yudi mengirim sms padaku pagi-pagi buta. Tidak biasanya. Ada apa gerangan? Ku yakinkan diri bahwa ini bukan mimpi lagi. Ku cubit lenganku sendiri. Duh ternyata tak sakit. Aku tak merasa. Ah lagi-lagi mimpi buruk lagi.

* * *

Ya Rabb, Engkaulah yang mampu membolak-balikan hati hamba. Sesungguhnya cinta yang hamba rasakan berasal dari-Mu, karena-Mu dan untuk-Mu. Jangan Kau biarkan cinta ini tumbuh karena nafsuku, biarkan cinta ini memenuhi relung jiwaku atas nama-Mu.
Jika dia memang Engkau takdirkan untukku, maka bukakanlah pintu hatinya untuk menerimaku dengan segala kekuranganku. Jika dia memang bukan untukku, maka hapuskanlah rasa cinta ini untuknya.
Cinta suci ini adalah anugrah-Mu yang tak seharusnya membawa derita dalam kehidupan manusia melainkan bahagia. Duhai Engkau yang Maha Mencintai, aku rela kehilangan cinta yang lain asal jangan cinta-Mu. Biarlah cinta ini hanya bermuara pada-Mu.

Note: Tugas mata kuliah IBD untuk teman. Tokoh dan cerita adalah fiktif.

Mohon Kritik, Saran dan Koreksi...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s