Hukum Istihza’ (Memperolok) ALLAH SWT dan Rasul-NYA

Bagaimana hukum orang yang memperolok-olok ALLAH atau Rasul-NYA atau salah satu sunnah Rasulullah SAW?

Syekh Muhammad bin Shaleh al-‘Utsaimin (dalam Majmu’ Fatawa wa Rasail Fadhilah al-Syekh Ibn ‘Utsaimin 2/155-156) menjawab:

Memperolok-olok ALLAH SWT atau Rasul-NYA, atau salah satu sunnah Rasul-NYA adalah perbuatan kufur dan murtad yang mengeluarkan seseorang dari Islam. Berdasarkan firman ALLAH:

“Dan sungguh jika kalian bertanya kepada mereka, maka mereka akan mengatakan: Kami hanya bersenda gurau dan bermain-main. Katakanlah (wahai Muhammad): Apakah dengan ALLAH dan ayat-ayatNYA serta Rasul-NYA kalian memperolok-olok? Janganlah kalian meminta maaf, sungguh kalian telah kafir setelah beriman.” (al-Taubah: 65-66)

Maka setiap yang berolok-olok dengan ALLAH SWT atau Rasul-NYA, atau dengan ajaran yang dibawa oleh Rasulullah SAW, maka sesungguhnya dia telah kafir dan murtad. Ia harus bertaubat kepada ALLAH SWT

(dikutip dari “Muslimah Cantik, Akidahnya Benar” halaman 136 karya Syekh ‘Abdul ‘Aziz ibn Baz, dkk)

___
baca juga:
Tidak, Kamu Kafir!.

Iklan

Benarkah Palestina adalah Tanah yang Telah Dijanjikan untuk Israel?

Assalamu’alaykum wr wb

save our palestine

Konflik dan peperangan yang terjadi di Tanah Palestina merupakan hal yang sudah terjadi selama berabad-abad. Bukan hanya antara bangsa Arab melawan Yahudi, namun juga antara kaum Yahudi melawan Yahudi lainnya, dan juga serbuan dari kerajaan Babylonia dan juga Romawi.
Dr. Yusuf Qaradhawy di dalam bukunya “Palestina, Masalah Kita Bersama” (Alkautsar, 1998), dengan tegas menyatakan jika klaim Yahudi atas hak historis Tanah Palestina merupakan satu klaim yang didasari bertumpuk-tumpuk kedustaan besar. “Sejarah mencatat, yang pertama kali membangun kota Al-Quds (Yerusalem) adalah suku bangsa Yabus, salah satu kabilah Arab kuno yang meninggalkan semenanjung Jazirah Arab bersama suku Kan’an. Hal tersebut terjadi sejak 30 abad sebelum masehi. Ketika itu Al-Quds bernama ‘Urussyaleem’ atau ‘Kota Syaliim’, Tuhan bangsa Yabus. Sebagaimana namanya yang pertama, dipakai juga kata ‘Yabus’ yang dinisbatkan kepada nama kabilah. Penyebutan nama itu terdapat di dalam Taurat,” demikian Dr. Yusuf Qaradhawy.

“Setelah itu bangsa Kan’an dan yang lainnya mulai mendiami Al-Quds dan Palestina secara umum selama berabad-abad, sampai kedatangan Ibrahim a.s. yang hijrah dari tanah airnya Iraq, sebagai orang asing. Ibrahim memasuki Palestina bersama isterinya, Sarah, pada usia 75 tahun sebagaimana yang disebutkan dalam pasal-pasal Perjanjian Lama. Ketika ia mencapai usia 100 tahun, lahirlah Ishaq (Kejadian: 12). Ibrahim a.s. wafat pada usianya yang ke-175 tahun dan tidak pernah memiliki Tanah Palestina walauhanya sejengkal. Sehingga saat isterinya, Sarah, meninggal, dia harus meminta kepada bangsa Palestina tempat untuk menguburkannya.” (Kejadian: 23)

“Ketika Ishaq berusia 60 tahun, lahirlah Ya’qub. Ishaq meninggal di usia 180 tahun dan tidak memiliki sejengkal pun Tanah Palestina. Setelah kematian ayahnya, Ya’qub pindah ke Mesir dan wafat di sana di usia yang ke 147 tahun. Ia berusia 130 tahun ketika memasuki Mesir dan anak cucunya ketika itu berjumlah 70 jiwa (Kejadian: 46). Ini berarti masa di mana Ibrahim, Ishaq puteranya dan Ya’qub cucunya hidup di Palestina adalah 230 tahun. Mereka di sana sebagai orang asing, pendatang, yang tidak memiliki sejengkal pun Tanah Palestina,” tegas Dr. Qaradhawy.

Taurat menyebutkan bahwa masa di mana Bani Israil hidup di Mesir hingga keluar oleh Musa a.s. adalah 430 tahun. Mereka juga orang asing yang tidak memiliki apa-apa. Disebutkan juga dalam Taurat bahwa masa di mana Musa a.s. dan Bani Israil hidup di padang Sinai adalah 40 tahun.

Artinya janji Tuhan untuk mereka sudah lewat ketika itu selama 700 tahun dan mereka tidak memiliki apa-apa di Palestina. Maka kenapa Tuhan tidak memenuhi janjinya terhadap mereka?
Musa meninggal dan tidak pernah memiliki tanah sedikit pun di Palestina. Ia hanya memasuki wilayah Selatan Yordan dan meninggal di sana. Sepeninggalnya, yang memasuki Palestina adalah Joshua dan meninggal setelah membantai penduduk aslinya. Kemudian Tanah Palestina dibagi-bagikan kepada anak cucu Bani Israel dan mereka idak pernah memiliki raja maupun kerajaan kecuali para hakim yang memerintah selama 200 tahun. Setelah era hakim datanglah masa raja-raja: Saul, Daud, dan Sulaiman. Mereka memerinah selama 100 tahun bahkan kurang. Inilah periode berdirinya kerajaan dan masa kejayaan mereka. Setelah Sulaiman kerajaannya dibagi-bagi antara anak-anaknya: Yahudza di ‘Urussyaliim dan Israel di Syakeem (Nablus). Peperangan antara mereka berdua sangat dahsyat dan tiada henti, hingga datangnya tentara Babylonia di bawah pimpinan Nebukadnezar yang menghancurkan mereka berdua, menghancurkan Haikal Sulaiman dan ‘Urussyaliim, membakar Taurat, dan menawan tiap orang yang masih hidup.
Qaradhawy mengutip Syaikh Abdul Mu’iz Abdus Sattar yang memberikan komentar dalam bukunya ‘Telah Tiba Janji Kebenaran, wahai Yahudi’ dengan mengatakan, “Andai dijumlahkan seluruh tahun di mana Bani Israel hidup berperang dan menghancurkan di Palestina, tidak akan bisa menyamai masa yang dilalui Inggris di India, atau pun Belanda di Indonesia. Maka jika masa seperti itu memliki hak sejarah, sudah pasti Inggris dan Belanda akan menuntut hal serupa, seperti Israel!”

Seandainya kepemilikan tanah bisa disebabkan lamanya waktu tinggal di pengasingan, maka lebih tepat bagi mereka untuk menuntut kepemilkan atas Mesir yang mereka diami selama 430 tahun sebagai pengganti Palestina yang didiami Ibrahim dan anak-anaknya selama 200 tahun atau lebih sedikit dan mulanya hanya dua orang yang memasuki tanah Palestina dan ditinggalkan oleh 70 orang!

baca selengkapnya…..

Banner #IndonesiaTanpaJIL

Assalamu’alaykum wr wb

Dukung gerakan #IndonesiaTanpaJIL melalui blog kamu dengan memasang widget Indonesia Tanpa JIL dengan menyalin script berikut:

a href=”http://www.facebook.com/IndonesiaTanpaJIL” style=”display:scroll;position:fixed;top:1px;right:1px;”>

(tambahan < sebelum a href dan diakhir script)

Contoh tampilan widget dapat dilihat di bagian bawah blog ini.

Wassalam

May A Muslim Saying Merry Christmas?

Alhamdulillahi robbil ‘alamin, shalaatu wa wa salaamu’ ala Muhammad wa nabiyyina ‘ala alihi shohbihi wa wa sallam.

May A Muslim Saying Merry Christmas?

We often hear the words that before the celebration of Christmast might be implemented by people. Regarding the permissibility congratulates Christmas to the Christians may or not, some Muslims are still hazy about this. Some of them are obscured by the thought some people who say smart (read: scholars), so they assume that congratulates Christmas to people why Christians can not (one should not). Even some smart people had said that it was ordered or recommended. But to find out that proble is right or not, of course we must refer to the Quran and As Sunnah, also on the clergy are qualified, who really understand with this religion. Teachings of Islam should not we take from any person, although maybe the people who take their knowledge is said to be a scholar. But the source of such people is mostly referring to the words of western orientalists who want to destroy this religion. They tried to tamper with the proposition or the words of the scholars who according to his desires. They can’t because they want to seek truth from Allah and His Messenger, but merely follow the passions. If in accordance with their thoughts that have been contaminated with the orientalis understand, then they take. But if it does not coincide with their desires, they will be rejected outright.

continue reading

Janji-janji yang Terhutang sampai Mati

Assalamu’alaykum wr wb

Green Forest by Ownskin

Selamat Hari Raya Idul Adha 1432 H

Berikut sebuah selasar Tarbawi edisi 88 th 5 sebagai pelajaran hikmah hari ini buat saya dan kalian…

Janji teramat mudah diucapkan. Karena pengejanya adalah lidah yang kerap disebut orang, tidak bertulang. Padahal sebenarnya semakin banyak dan mudah seseorang mengucap janji, sama dengan semakin banyak membuka peluang-peluang pelanggaran.

Sepotong janji adalah deklarasi. Tentang apa saja. Bahwa kita telah menetapkan diri kita untuk sebuah kewajiban. Mengikatkan untuk diri kita sebuah keharusan. Untuk diri sendiri, terlebih orang lain. Maka janji harus ditepati. Janji adalah transaksi yang harus ditunaikan. Bahkan hingga kelak di akhirat nanti.

Ketahuilah, takdir itu tidak berjalan menurut rencana kita, bahkan kebanyakan yang terjadi adalah apa yang tidak kita rencanakan dan sedikit sekali terjadi apa yang kita rencanakan. (Ibnu Athaillah)

Sebagai seorang muslim, mengucapkan dua kalimat syahadat adalah janji keislamannya. Menunaikan rukun islam adalah pembuktian kepercayaannya. Tapi kesetiaannyalah yang akan memberinya umur bagi pembuktian janji itu. Sepenggal janji adalah harga yang mahal untuk sebuah kepercayaan. Sebab janji yang tidak bisa dipercaya atau janji yang tidak ada kepercayaan didalamnya ibarat buah yang ranum kulitnya tapi kopong didalamnya.

Didalam lubuk keimanan, janji-janji bagi seorang mukmin adalah kontrak-kontrak spiritual dengan Tuhannya. Meski format aplikasinya bermacam bentuk. Janji itu adalah ketakwaan, yang menjadi penghantar bagi petunjuk jalan dan ampunan. Maka mulailah berjanji dengan benar, janji yang punya ruh kepercayaan, lalu hidup panjang dengan kesetiaan. Sebagai orang yang beriman.

Wassalam
nb: Image by Ownskin.com. Ditulis via ponsel Nokia 2700c

Love is Dangerous

Assalamu’alaykum wr wb

image: lolsigh

Betapa banyak orang mengalami penyakit cinta buta. Cinta buta itu tidak dapat membedakan antara kemuliaan dan kehinaan. Banyak mereka yang terkena penyakit cinta buta itu, terjatuh ke dalam kehidupan hina dina, tetapi mereka menyangka sebuah kemuliaan. Tak jarang pula mereka yang sudah terkena penyakit cinta buta itu, kehilangan kesadaran dan kehendak sucinya mengenal hakekat kebenaran sejati, Al-haq.
Mengobati cinta buta seseorang harus mengetahui bahwa yang menimpanya adalah sesuatu yang bertentangan dan menafikan tauhidnya kepada Allah. Manusia yang mengalami cinta buta harus menyadari bahwa ketika melakukan semuanya, karena kelalaian hatinya kepada Allah. Ia harus mengetahui dan menyadari untuk bertauhid kepada-Nya, sunnah-sunnah-Nya, dan bukti-bukti Allah.
Melakukan ibadah-ibadah lahir dan bathin, sehingga hati dan pikirannya senantiasa berpikir kepadanya ibadah kepada-Nya. Hendaklah ia memperbanyak kembali dan mendekatkan diri kepada Allah dengan penuh ketundukkan dan rendah diri. Tidak ada obat yang paling efektif daripada ikhlas hanya kepada Allah.
Allah menyebutkan di dalam Al-Qur’an :

“ Demikianlah, agar Kami memalingkan darinya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih”. (Yusuf : 24)

Penggambaran ayat diatas ini menjelaskan bahwa Allah memalingkan dan menjauhkan Yusuf dari kemungkaran isyq (cinta buta) dan kekejian dengan keikhlasannya. Tidak ada yang dapat menjauhkan kesesatan seseorang kecuali, hanya ketika ia dekat dengan Allah. Jika hati itu bersih suci dan memurnikan amanah hanya kepada Allah, maka idak mungkin orang akan terkena penyakit cinta buta. Cinta buta tidak akan bersemayam di hati seseorang yang selalu mengingat Allah. Sebab cinta buta hanya berada di dalam hati yang kosong. Seperti dikatakan seorang penyair :

“ Cintaku pada perempuan itu datang sebelum aku mengenal cinta, Ia datang ke hati yang kosong, kemudian bersaranglah ia ”.

Maka, hendaklah orang yang berakal mengetahui bahwa secara logika dan syariat dalam hidup ini, ia harus meraih kebaikan dan kemaslahatan atau melengkapinya dan menghindar dari mafsadah. Jika seseorang dihdapkan pada masalah yang ada kandungan masalahat dan mafsadah, maka ia harus memiliki dua prinsip.
Prinsip amali dan prinsip ilmiah.

Secara ilmiah mengharuskannya memiliki pengetahuan tentang mana yang lebih kuat segi maslahat atau mafsadahnya? Jika ia telah menemukan mana yang paling banyak masalahatnya, maka seseorang itu harus mengikuti yang palig banyak masalahatnya. Bukan justru mengikuti yang banyak mafsadahnya, meskipun secara pandangan mata, itu sangat baik bagi seseorang.

image: lolsigh

Seseorang harus memahami bahwa cinta buta itu, tidak ada sama sekali maslahatnya bagi manusia di dunia dan akhirat. Cinta itu dapat menimbulkan mafsadah bagi manusia dalam kategori yang sangat luas dalam kehidupan ini. Diantaranya :

Pertama , manusia akan disibukkan dengan mengingat-ingat makhluk dan mencintainya, dan dibandingkan dengan zikir dan cinta kepada Allah. Ketahuilah antara cinta dan zikir itu tidak mungkin menyatu dalam hati seseorang, karena keduanya akan bertarung dan akan menguasainya adalah yang paling kuat.

Kedua , hatinya tersiksa karena ma’syuqnya, dan barangsiapa yang mencintai selain Allah, ia akan tersiksa dengannya. Seorang penyair mengatakan :

“ Tak ada yang lebih sengsara di bumi daripada orang yang kasmaran,
Jika ia bertemu dengan orang yang dicintai ia senang,
Kau lihat ia menangis setiap saat,
Karena takut berpisah atau memendam rindu,
Ia juga menangis ketika erada disampingnya karena takut berpisah,
Air mata berlinang ketika berpisah,
Dan air matanya berlinang lagi ketika bertemu”.

Cinta buta, meski terkadang dinikmati oleh pelakunya, namn sebenarnya ia merasakan ketersiksaan hati yang paling berat.

Ketiga , Hatinya tertawan dan terhina dalam genggaman orang yang dicintainya. Namun, karena ia mabuk cinta, ia tidak merasakan musibah yang menimpanya.

“ Mata melihatnya ia hidup bebas, padahal hakikatnya ia tertawan,
Ia sakit dan berputar dalam lingkaran kutub,
Ia mati meski terlihat fisiknya hidup,
Ia tak punya hak untuk dibangkitkan lagi,
Hatinya hilang tersebut dalam kebodohan,
Ia tak akan kembali sampai mati”.

baca selengkapnya…..

Bila Ibadah Dihantui Perasaan Riya’

Assalamu’alaykum wr wb

Sumber: voa-islam

Memang seharusnya setiap muslim takut dan khawatir terhadap riya’. Yaitu niatan dalam beramal shalih agar dilihat dan diperhatikan manusia sehingga mereka memujinya. Riya’ ini akan merusak dan menghancurkan amal shalih yang dikerjakan, sehingga amal tersebut akan tertolak. Dan jika amal ibadah tertolak karena riya’, maka seolah-olah dia tidak melaksanakan perintah ibadah tersebut. Karena Allah Ta’ala memerintahkan beribadah kepada-Nya dengan keikhlasan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

” Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus .” (QS. Al-Bayyinah: 5)

Penyakit ini termasuk jenis penyakit yang sangat berbahaya karena bersifat lembut (samar-samar) tapi berdampak luar biasa. Bersifat lembut karena masuk dalam hati secara halus sehingga kebanyakan orang tak merasa kalau telah terserang penyakit ini. Dan berdampak luar biasa, karena bila suatu amalan dijangkiti penyakit riya’ maka amalan itu tidak akan diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan pelakunya mendapat ancaman keras dari-Nya. Oleh karena itu Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sangat khawatir bila penyakit ini menimpa umatnya. Beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

” Sesungguhnya yang paling ditakutkan dari apa yang saya takutkan menimpa kalian adalah asy syirkul ashghar (syirik kecil), maka para shahabat bertanya, apa yang dimaksud dengan asy syirkul ashghar? Beliau shalallahu‘alaihi wasallam menjawab: “Ar Riya’. ” (HR. Ahmad dari shahabat Mahmud bin Labid no. 27742)

Diriwayatkan dari Abu Said Radhiyallahu ‘Anhu , Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
“Maukah aku beritahukan kepada kalian tentang sesuatu yang lebih aku takutkan atas kalian daripada al-Masih al-Dajjal?” Para sahabat menjawab, “Baiklah, Ya Rasulallah.” Beliau bersabda:
” Yaitu Syirik Khafi (samar), seseorang berdiri shalat lalu memperbagus shalatnya karena tahu ada seseorang yang memperhatikannya. ” (HR. Ibnu Majah dan Ahmad. Dishahihkan al-Albani dalam al-Misykah, no. 4194)

baca selengkapnya….