Penyesalan Lagi Maaf Lagi

ownskin.com

Saya gagal menahan emosi. Sadar saya kalap setelah jantung ini berdetak hebat, menguncang rongga, menandai tubrukan amarah nan tak terkira. Saya sangat bodoh. Seluruh alam berhak memaki saya!

Sebagai kakak…ya sebagai kakak seharusnya saya tak begitu mudah terpeleset oleh gejolak emosi ini. Dada saya lebih lebar. Tentu sabar harus kian kekar. Tapi sekali lagi seluruh alam berhak memaki saya setelah canda tawa yang berakhir pertengkaran malam ini.

Mestinya saya sadar, sebagai kakak.
Mestinya saya ingat, mesti mengalah.
Mestinya saya tau saya bodoh…

Astaghfirullah….

Iklan

Hubungan Gelap Syiah dengan Yahudi

israel

Islam tetap lah satu sedangkan Syiah bukanlah Islam. Syiah ajaran yang menyempal dari Islam. Al Khalal meriwayatkan dari Abu Bakar Al Marwazi, katanya : Saya mendengar Abu Abdulloh berkata, bahwa ImamMalik berkata: “Orang yang mencela sahabat-sahabat Nabi, maka ia tidak termasuk dalam golongan Islam”. Maka itu Syiah lebih pas disebut aliran.

Istilah Sunni atau Syi’i (Syiah) pun tidak ada sebelumnya. Kedua istilah itu baru muncul setelah Sayyidina Ali menjadi khalifah dan lebih kuat lagi ketika Sayyidina Husain terbunuh. Adapun pada perkembangannya, nama Sunni kemudian hadir untuk merespon lahirnya Syiah agar tidak disamakan dengan golongan Syi’ah yang membonceng nama Islam.
Untuk melihat vonis kafir terhadap seorang yang berada dalam lingkaran Syi’ah kita harus jeli, sebab banyak umat yang masuk ke Syiah awam akan kesesatan aliran ini.

Kita ketahui bersama Syiah kerap mendakwahkan alirannya lewat jalan taqiyyah. Mereka tidak berani tampil vulgar dengan doktrin aslinya bahwa Al- Qur’an yang ada terdapat pengurangan dan tidak otentik. Bahwa Ahlussunnah dimata orang syi’ah adalah kafir (Murtad), anak zina, halal darah dan hartanya. Dan masih banyak lagi. Namun ulama-ulama Syiah bahkan Khomeini sekalipun sudah jelas kafir karena menyatakan dirinya ma’sum.
Oleh karenanya Imam Bukhori dalam Kholgul Afail halaman 125, pernah berkata, “Bagi saya sama saja, apakah aku sholat dibelakang Imam yang beraliran JAHM atau Rofidhoh (Syiah) atau aku sholat di belakang Imam Yahudi atau Nasrani. Dan seorang Muslim tidak boleh memberi salam pada mereka, dan tidak boleh mengunjungi mereka ketika sakit juga tidak boleh kawin dengan mereka dan tidak menjadikan mereka sebagai saksi, begitu pula tidak makan hewan yang disembelih oleh mereka.”

Syiah Memusuhi Yahudi?
Jangan mudah juga percaya bahwa Syiah itu betul-betul memusuhi Yahudi. Kehidupan Yahudi di Iran pun tenang-tenang saja, mereka diberi hak-haknya. Tidak ada tanda permusuhan dari seorang Ahmadinejad. Bahkan Iran adalah negara di Timur Tengah yang menampung Yahudi terbanyak setelah Israel dengan jumlah populasi yang mencapai 50.000 orang dan tersebar di tiga kota, Teheran, Isfahan, dan Shiraz. Berbeda dengan sunni yang mengalami penindasan.

Sunni Iran mengalami penekanan yang sistematik selama bertahun-tahun. Pemimpin mereka, seperti Ahmed Mufti Zadeh dan Syeikh Ali Dahwary, dipenjarakan kemudian dibunuh. Pemerintah Iran juga menghancurkan masjid-masjid kaum Sunni, bahkan adzan kaum Sunni pun dilarang oleh pemerintah Iran.
Hebatnya, seakan berbanding terbalik, Sinagog Yahudi justru banyak bertebaran di seantero Iran, di Teheran sendiri ada 10 tempat ibadah kaum Yahudi laknatullah tersebut. Mereka aman, sejahtera, dan sentosa.

Situasi kegetiran kaum Sunni Iran pun sangat menyedihkan. Mereka hidup di pinggiran dan perbatasan. Sementara kaum Syiah dan Yahudi menghuni kawasan kota-kota besar di Iran. Apa arti dari ini semua? Apakah betul Syiah memusuhi Yahudi?

Hubungan kekerabatan ini amat wajar sekali terjalin, karena Syiah sendiri adalah hasil makar Abdullah bin Saba’ seorang Yahudi gembong munafik yang menyembunyikan kekufuran dan menampakkan keislaman yang geram melihat Islam tersiar dan tersebar di jazirah Arab, di Imperium Romawi, negeri-negeri Persia sampai ke Afrika dan masuk jauh di Asia, bahkan sampai berkibar di perbatasan-perbatasan Eropa.
Maka itu tak heran pula ajaran Syiah mirip dengan Yahudi. Sebagai contoh Orang Yahudi mengatakan yang layak memegang kekuasaan adalah keluarga Dawud. Sedangkan kata Syi’ah tidak layak menduduki imamah (kekuasaan) kecuali anak turun’Ali bin Abi Thalib (Ahlul Bait).
Yahudi mengganti kitab Tauratdengan talmud, sedangkan Syiah merubah kitab suci Al-Qur’an dengan al-Jamiah, al-Jufr dan Mushaf Fatimah.

Hubungan Syiah dan Zionis Israel
Beberapa waktu lalu seorang Ulama Syiah sempat membuat pernyataan mengejutkan. Menurut Ulama Syiah Mahmud Nubia, bahwa penasehat teras atas Ahmadinejad, Esfandiar Rahim Mashaei, menyatakan bahwa Iran harus memiliki “hubungan yang bersahabat” dengan Negara Yahudi, namun Ahmadinejad menahan diri dari posisi ini di depan umum karena pemimpin tinggi Syiah Iran Ayatollah Ali Khamenei sangat keberatan dengan hal ini.
Nubia lebih lanjut menyatakan bahwa Presiden Iran secara pribadi mengatakan kepadanya bahwa ia mendukung pernyataan Mashaei, tapi tidak bisa berkata apa-apa karena menghormati pemimpin tertinggi Syiah Iran, Ali Khamenei.

baca lebih lengkap….
___
Image Source.

Bukan Romansa

Waktu melumat siapa saja. Walaupun aku sendiri dan berdiri. Sekejap tercipta tekad.
Sering ku mendengarnya terlantang. Muda mesti bercinta. Sendiri tak ada guna. Bisa dikira tak berdaya. Romansa bernama.

Pedekate bermula. Pendekatan utuhnya. Ah apa pula itu. Konon semacam peleburan, mengapai persamaan.

Buat apa toh manakala terjalin sudah, akhir tetap terpisah. Maka keluhnya serupa, tak mampu bertahan dalam dua. Waktu tak mungkin ditahan, menahan

Waktu membisik. Aku terusik.

Benarkah Palestina adalah Tanah yang Telah Dijanjikan untuk Israel?

Assalamu’alaykum wr wb

save our palestine

Konflik dan peperangan yang terjadi di Tanah Palestina merupakan hal yang sudah terjadi selama berabad-abad. Bukan hanya antara bangsa Arab melawan Yahudi, namun juga antara kaum Yahudi melawan Yahudi lainnya, dan juga serbuan dari kerajaan Babylonia dan juga Romawi.
Dr. Yusuf Qaradhawy di dalam bukunya “Palestina, Masalah Kita Bersama” (Alkautsar, 1998), dengan tegas menyatakan jika klaim Yahudi atas hak historis Tanah Palestina merupakan satu klaim yang didasari bertumpuk-tumpuk kedustaan besar. “Sejarah mencatat, yang pertama kali membangun kota Al-Quds (Yerusalem) adalah suku bangsa Yabus, salah satu kabilah Arab kuno yang meninggalkan semenanjung Jazirah Arab bersama suku Kan’an. Hal tersebut terjadi sejak 30 abad sebelum masehi. Ketika itu Al-Quds bernama ‘Urussyaleem’ atau ‘Kota Syaliim’, Tuhan bangsa Yabus. Sebagaimana namanya yang pertama, dipakai juga kata ‘Yabus’ yang dinisbatkan kepada nama kabilah. Penyebutan nama itu terdapat di dalam Taurat,” demikian Dr. Yusuf Qaradhawy.

“Setelah itu bangsa Kan’an dan yang lainnya mulai mendiami Al-Quds dan Palestina secara umum selama berabad-abad, sampai kedatangan Ibrahim a.s. yang hijrah dari tanah airnya Iraq, sebagai orang asing. Ibrahim memasuki Palestina bersama isterinya, Sarah, pada usia 75 tahun sebagaimana yang disebutkan dalam pasal-pasal Perjanjian Lama. Ketika ia mencapai usia 100 tahun, lahirlah Ishaq (Kejadian: 12). Ibrahim a.s. wafat pada usianya yang ke-175 tahun dan tidak pernah memiliki Tanah Palestina walauhanya sejengkal. Sehingga saat isterinya, Sarah, meninggal, dia harus meminta kepada bangsa Palestina tempat untuk menguburkannya.” (Kejadian: 23)

“Ketika Ishaq berusia 60 tahun, lahirlah Ya’qub. Ishaq meninggal di usia 180 tahun dan tidak memiliki sejengkal pun Tanah Palestina. Setelah kematian ayahnya, Ya’qub pindah ke Mesir dan wafat di sana di usia yang ke 147 tahun. Ia berusia 130 tahun ketika memasuki Mesir dan anak cucunya ketika itu berjumlah 70 jiwa (Kejadian: 46). Ini berarti masa di mana Ibrahim, Ishaq puteranya dan Ya’qub cucunya hidup di Palestina adalah 230 tahun. Mereka di sana sebagai orang asing, pendatang, yang tidak memiliki sejengkal pun Tanah Palestina,” tegas Dr. Qaradhawy.

Taurat menyebutkan bahwa masa di mana Bani Israil hidup di Mesir hingga keluar oleh Musa a.s. adalah 430 tahun. Mereka juga orang asing yang tidak memiliki apa-apa. Disebutkan juga dalam Taurat bahwa masa di mana Musa a.s. dan Bani Israil hidup di padang Sinai adalah 40 tahun.

Artinya janji Tuhan untuk mereka sudah lewat ketika itu selama 700 tahun dan mereka tidak memiliki apa-apa di Palestina. Maka kenapa Tuhan tidak memenuhi janjinya terhadap mereka?
Musa meninggal dan tidak pernah memiliki tanah sedikit pun di Palestina. Ia hanya memasuki wilayah Selatan Yordan dan meninggal di sana. Sepeninggalnya, yang memasuki Palestina adalah Joshua dan meninggal setelah membantai penduduk aslinya. Kemudian Tanah Palestina dibagi-bagikan kepada anak cucu Bani Israel dan mereka idak pernah memiliki raja maupun kerajaan kecuali para hakim yang memerintah selama 200 tahun. Setelah era hakim datanglah masa raja-raja: Saul, Daud, dan Sulaiman. Mereka memerinah selama 100 tahun bahkan kurang. Inilah periode berdirinya kerajaan dan masa kejayaan mereka. Setelah Sulaiman kerajaannya dibagi-bagi antara anak-anaknya: Yahudza di ‘Urussyaliim dan Israel di Syakeem (Nablus). Peperangan antara mereka berdua sangat dahsyat dan tiada henti, hingga datangnya tentara Babylonia di bawah pimpinan Nebukadnezar yang menghancurkan mereka berdua, menghancurkan Haikal Sulaiman dan ‘Urussyaliim, membakar Taurat, dan menawan tiap orang yang masih hidup.
Qaradhawy mengutip Syaikh Abdul Mu’iz Abdus Sattar yang memberikan komentar dalam bukunya ‘Telah Tiba Janji Kebenaran, wahai Yahudi’ dengan mengatakan, “Andai dijumlahkan seluruh tahun di mana Bani Israel hidup berperang dan menghancurkan di Palestina, tidak akan bisa menyamai masa yang dilalui Inggris di India, atau pun Belanda di Indonesia. Maka jika masa seperti itu memliki hak sejarah, sudah pasti Inggris dan Belanda akan menuntut hal serupa, seperti Israel!”

Seandainya kepemilikan tanah bisa disebabkan lamanya waktu tinggal di pengasingan, maka lebih tepat bagi mereka untuk menuntut kepemilkan atas Mesir yang mereka diami selama 430 tahun sebagai pengganti Palestina yang didiami Ibrahim dan anak-anaknya selama 200 tahun atau lebih sedikit dan mulanya hanya dua orang yang memasuki tanah Palestina dan ditinggalkan oleh 70 orang!

baca selengkapnya…..

Banner #IndonesiaTanpaJIL

Assalamu’alaykum wr wb

Dukung gerakan #IndonesiaTanpaJIL melalui blog kamu dengan memasang widget Indonesia Tanpa JIL dengan menyalin script berikut:

a href=”http://www.facebook.com/IndonesiaTanpaJIL” style=”display:scroll;position:fixed;top:1px;right:1px;”>

(tambahan < sebelum a href dan diakhir script)

Contoh tampilan widget dapat dilihat di bagian bawah blog ini.

Wassalam

Humanisme Bukan Islam

Assalamu’alaykum wr wb

islam

Salah satu perkara yang seringkali menjadi sasaran kritik kaum liberalis terhadap para aktifis Islam ialah kurangnya jiwa sosial mereka. Aktifis Islam dianggap tidak humanis. Aktifis Islam sering dituduh hanya sibuk menjalin hablun-minallah (hubungan dengan Allah) dan mengabaikan hablun-minan-naas (hubungan dengan sesama manusia). Aktifis Islam hanya rajin ber-ibadah vertikal tapi lalai ber- ’amal sholeh horizontal yang kemudian bisa dirasakan manfaatnya bagi orang lain. Oleh karenanya, ketika aktifis Islam dikomparasi dengan aktifis agama lainnya –aktifis gereja misalnya- maka mereka sering dianggap asosial, sedangkan para aktifis gereja dianggap sangat berjiwa sosial sehingga dipandang lebih humanis ketimbang para aktifis Islam. Benarkah demikian?
Stereotype seperti di atas jelaslah tidak benar. Begitu banyak pesan dari Al-Qur’an maupun Hadits yang menganjurkan seorang muslim untuk peduli dengan sesama. Di antaranya sebagai berikut:

”… dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”. (QS Al-Isra ayat 23-24)

Bersabda Rasulullah shollallahu’alaih wa sallam : “Barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir hendaklah bicara yang baik atau diam. Dan barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir hendaklah menghormati tetangganya. Dan barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir hendaklah menghormati tamunya.” (HR Bukhary-Muslim).
Dan masih banyak sekali pesan-pesan seperti di atas yang intinya menyuruh seorang muslim untuk berbuat kebaikan kepada sesama saudaranya. Jelas ini merupakan jenis pesan yang menggambarkan betapa ajaran Islam mengandung jiwa kemanusiaan atau sebut sajalah bersifat humanis . Sehingga Rasulullah menegaskan bahwa kecintaan Allah kepada hambaNya sangat terkait dengan kebaikan hambaNya tersebut kepada sesama hamba Allah lainnya. Maka Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam bersabda:

“Manusia yang paling dicintai Allah ialah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya. Dan perbuatan yang paling disukai di sisi Allah ialah mendatangkan kebahagiaan kepada sesama muslim.” (HR Thabrani)

Namun demikian, ini tidak berarti bahwa ajaran Islam identik atau sama dan sebangun dengan faham humanisme. Suatu faham yang dewasa ini sangat berkembang di dunia modern, khususnya di kalangan orang-orang Barat atau orang-orang yang cara berfikirnya telah terbaratkan. Humanisme adalah suatu faham yang memandang bahwa manusia dan segenap aspirasinya merupakan hal yang paling penting di dalam kehidupan. Sehingga mulia-hinanya seseorang dinilai semata-mata pada perilaku baiknya kepada sesama manusia. Hal yang biasa diistilahkan dengan ” good deeds ” atau melakukan perbuatan terpuji. Humanisme tidak mengkaitkan perbuatan baik seseorang dengan Sang Pencipta, Allah Subhanahu wa ta’aala serta Hari Kemudian alias kehidupan akhirat. Yang penting orang berbuat baik, maka dia sudah dipandang sebagai seorang humanis atau moralis.

Islam mengajarkan bahwa perbuatan baik seseorang kepada sesama manusia baru akan benar-benar bernilai jika dilandasi dengan iman dan keyakinannya akan Allah dan kehidupan di Hari Kemudian alias akhirat. Jika ia berbuat baik namun tidak diiringi dengan keyakinan akan adanya Hari Berbangkit, maka perbuatannya menjadi sia-sia di mata Allah. Walaupun ia tetap akan mendapat manfaat di dunia, namun di akhirat perbuatannya tersebut tidak memberi kebaikan apapun bagi si pelaku. Mengapa demikian? Karena ibarat sebuah upaya entri ke dalam sebuah situs ekslusif di dunia maya, maka ia baru akan berhasil masuk jika ia mengetahui password-nya. Perbuatan kebaikan seseorangpun demikian. Bila ia berharap perbuatan baiknya memiliki dampak yang jauh hingga ke hari Berbangkit, maka sudah selayaknya ia berbuat segenap kebaikan dengan dilandasi iman kepada Allah dan Hari Akhir. Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam bersabda:

”Seorang kafir jika berbuat kebaikan di dunia, maka segera diberi balasannya di dunia. Adapun orang mu’min jika ber­buat kebajikan, maka tersimpan pahalanya di akherat di samping rizqi yang diterimanya di dunia atas keta’atannya.” (HR Muslim)

baca selengkapnya…

___
eramuslim
image: ownskin

Tentang Kecewa

ownskin

Ada banyak sekali soal yang mengecewakan hatiku. Ada banyak kejadian yang tidak sejalan dengan harapanku. Tapi ternyata kekecewaan bukan soal istimewa. Bukan soal besar dalam hidup. Baru ketika aku membesar-besarkan kekecewaanku itulah soal besar bagiku” Prie GS.

Sungguh ini tentang kecewa, kenapa saya hanya bisa mengutip tulisan orang lain saja hingga sadar ternyata diri ini tak mampu produktif.
Tapi kecewa ini tetap akan berupa kata, tak akan ada potensi wujud.

Gadanglah aia Banda Baru
Nampak nan dari Mandi Angin
Elok nan usang dipabaru
Pado mancari ka nan lain

#EdisiRandomYangPentingBlogUdahUpdate.


image by ownskin