Dia bukan dia saja

Kenapa tidak kamu saja tetapi kakek itu? Beliau sudah 72 tahun, kulit cokelat menjurus hitam, separo uban menutupi kepala namun bersuara berat berpadu tegas menjawab tanya yang dilontarkan pamanku.

Tak cuma aku, kalian penting menyadari bahwa jangan pernah menyimpulkan penilaian atas fisik seseorang.

Ini memang klise tapi bukan kamuflase!

Semula aku menyangka dia seperti mereka diujung pasar sana. Tukang becak yang terbiasa menjemur diri. Setiap orang mungkin menyamaratakan mereka dalam satu nama bahkan satu harga. Tukang becak, 3 ribu.

Nama beliau terlupa olehku. Ketika dialog singkat itu berlangsung aku terperangah sepenuhnya. Tak hanya aku. Paman dan Om Gepeng serta.

Baiklah. Beliau memang tukang becak nan tua. Kekar tubuhnya tak mengubah panggilannya. Topi aneh dan kaos partai sisa kampanye adalah perkenalan awal yang dia sajikan kepada kami. Sekali lagi, aku lupa nama beliau.

Bahwa ternyata beliau memang tak biasa. Pensiunan pegawai negri golongan 4 B itu memutuskan mengayuh becak sepanjang hari demi memamfaatkan waktu ketimbang menanam bonsai. Usia 72 tahun tak mengendurkan semangat lelaki tua ini. Ku berhasil meraup informasi bahwa kakek ini adalah kenalan bupati daerah ini.

Cucu beliau kuliah di perguruan tinggi negeri. Dan beliau juga sempat bercerita bahwa salah satu anaknya adalah guru di sebuah sekolah menengah kejuruan. Belum yang lainnya.

Apa lagi?

Dialog tetap meninggalkan makna apalagi bertempo asa dan berhaluan bahasa (?). Kakek ini tak hanya berbicara dengan bahasa lokal tapi 5 bahasa dikuasainya!

Bahasa Komering

Bahasa Sekayu

Bahasa Jawa

Bahasa Minang

Bahasa Sunda

Bahasa Palembang

Itu enam! Dan itu hanya fakta sementara yang berhasil saya raup.

Kagum macam apa yang mesti saya haturkan kepada kakek tua tukang becak ini?