Bukan Romansa

Waktu melumat siapa saja. Walaupun aku sendiri dan berdiri. Sekejap tercipta tekad.
Sering ku mendengarnya terlantang. Muda mesti bercinta. Sendiri tak ada guna. Bisa dikira tak berdaya. Romansa bernama.

Pedekate bermula. Pendekatan utuhnya. Ah apa pula itu. Konon semacam peleburan, mengapai persamaan.

Buat apa toh manakala terjalin sudah, akhir tetap terpisah. Maka keluhnya serupa, tak mampu bertahan dalam dua. Waktu tak mungkin ditahan, menahan

Waktu membisik. Aku terusik.

Benarkah Palestina adalah Tanah yang Telah Dijanjikan untuk Israel?

Assalamu’alaykum wr wb

save our palestine

Konflik dan peperangan yang terjadi di Tanah Palestina merupakan hal yang sudah terjadi selama berabad-abad. Bukan hanya antara bangsa Arab melawan Yahudi, namun juga antara kaum Yahudi melawan Yahudi lainnya, dan juga serbuan dari kerajaan Babylonia dan juga Romawi.
Dr. Yusuf Qaradhawy di dalam bukunya “Palestina, Masalah Kita Bersama” (Alkautsar, 1998), dengan tegas menyatakan jika klaim Yahudi atas hak historis Tanah Palestina merupakan satu klaim yang didasari bertumpuk-tumpuk kedustaan besar. “Sejarah mencatat, yang pertama kali membangun kota Al-Quds (Yerusalem) adalah suku bangsa Yabus, salah satu kabilah Arab kuno yang meninggalkan semenanjung Jazirah Arab bersama suku Kan’an. Hal tersebut terjadi sejak 30 abad sebelum masehi. Ketika itu Al-Quds bernama ‘Urussyaleem’ atau ‘Kota Syaliim’, Tuhan bangsa Yabus. Sebagaimana namanya yang pertama, dipakai juga kata ‘Yabus’ yang dinisbatkan kepada nama kabilah. Penyebutan nama itu terdapat di dalam Taurat,” demikian Dr. Yusuf Qaradhawy.

“Setelah itu bangsa Kan’an dan yang lainnya mulai mendiami Al-Quds dan Palestina secara umum selama berabad-abad, sampai kedatangan Ibrahim a.s. yang hijrah dari tanah airnya Iraq, sebagai orang asing. Ibrahim memasuki Palestina bersama isterinya, Sarah, pada usia 75 tahun sebagaimana yang disebutkan dalam pasal-pasal Perjanjian Lama. Ketika ia mencapai usia 100 tahun, lahirlah Ishaq (Kejadian: 12). Ibrahim a.s. wafat pada usianya yang ke-175 tahun dan tidak pernah memiliki Tanah Palestina walauhanya sejengkal. Sehingga saat isterinya, Sarah, meninggal, dia harus meminta kepada bangsa Palestina tempat untuk menguburkannya.” (Kejadian: 23)

“Ketika Ishaq berusia 60 tahun, lahirlah Ya’qub. Ishaq meninggal di usia 180 tahun dan tidak memiliki sejengkal pun Tanah Palestina. Setelah kematian ayahnya, Ya’qub pindah ke Mesir dan wafat di sana di usia yang ke 147 tahun. Ia berusia 130 tahun ketika memasuki Mesir dan anak cucunya ketika itu berjumlah 70 jiwa (Kejadian: 46). Ini berarti masa di mana Ibrahim, Ishaq puteranya dan Ya’qub cucunya hidup di Palestina adalah 230 tahun. Mereka di sana sebagai orang asing, pendatang, yang tidak memiliki sejengkal pun Tanah Palestina,” tegas Dr. Qaradhawy.

Taurat menyebutkan bahwa masa di mana Bani Israil hidup di Mesir hingga keluar oleh Musa a.s. adalah 430 tahun. Mereka juga orang asing yang tidak memiliki apa-apa. Disebutkan juga dalam Taurat bahwa masa di mana Musa a.s. dan Bani Israil hidup di padang Sinai adalah 40 tahun.

Artinya janji Tuhan untuk mereka sudah lewat ketika itu selama 700 tahun dan mereka tidak memiliki apa-apa di Palestina. Maka kenapa Tuhan tidak memenuhi janjinya terhadap mereka?
Musa meninggal dan tidak pernah memiliki tanah sedikit pun di Palestina. Ia hanya memasuki wilayah Selatan Yordan dan meninggal di sana. Sepeninggalnya, yang memasuki Palestina adalah Joshua dan meninggal setelah membantai penduduk aslinya. Kemudian Tanah Palestina dibagi-bagikan kepada anak cucu Bani Israel dan mereka idak pernah memiliki raja maupun kerajaan kecuali para hakim yang memerintah selama 200 tahun. Setelah era hakim datanglah masa raja-raja: Saul, Daud, dan Sulaiman. Mereka memerinah selama 100 tahun bahkan kurang. Inilah periode berdirinya kerajaan dan masa kejayaan mereka. Setelah Sulaiman kerajaannya dibagi-bagi antara anak-anaknya: Yahudza di ‘Urussyaliim dan Israel di Syakeem (Nablus). Peperangan antara mereka berdua sangat dahsyat dan tiada henti, hingga datangnya tentara Babylonia di bawah pimpinan Nebukadnezar yang menghancurkan mereka berdua, menghancurkan Haikal Sulaiman dan ‘Urussyaliim, membakar Taurat, dan menawan tiap orang yang masih hidup.
Qaradhawy mengutip Syaikh Abdul Mu’iz Abdus Sattar yang memberikan komentar dalam bukunya ‘Telah Tiba Janji Kebenaran, wahai Yahudi’ dengan mengatakan, “Andai dijumlahkan seluruh tahun di mana Bani Israel hidup berperang dan menghancurkan di Palestina, tidak akan bisa menyamai masa yang dilalui Inggris di India, atau pun Belanda di Indonesia. Maka jika masa seperti itu memliki hak sejarah, sudah pasti Inggris dan Belanda akan menuntut hal serupa, seperti Israel!”

Seandainya kepemilikan tanah bisa disebabkan lamanya waktu tinggal di pengasingan, maka lebih tepat bagi mereka untuk menuntut kepemilkan atas Mesir yang mereka diami selama 430 tahun sebagai pengganti Palestina yang didiami Ibrahim dan anak-anaknya selama 200 tahun atau lebih sedikit dan mulanya hanya dua orang yang memasuki tanah Palestina dan ditinggalkan oleh 70 orang!

baca selengkapnya…..

Banner #IndonesiaTanpaJIL

Assalamu’alaykum wr wb

Dukung gerakan #IndonesiaTanpaJIL melalui blog kamu dengan memasang widget Indonesia Tanpa JIL dengan menyalin script berikut:

a href=”http://www.facebook.com/IndonesiaTanpaJIL” style=”display:scroll;position:fixed;top:1px;right:1px;”>

(tambahan < sebelum a href dan diakhir script)

Contoh tampilan widget dapat dilihat di bagian bawah blog ini.

Wassalam

Humanisme Bukan Islam

Assalamu’alaykum wr wb

islam

Salah satu perkara yang seringkali menjadi sasaran kritik kaum liberalis terhadap para aktifis Islam ialah kurangnya jiwa sosial mereka. Aktifis Islam dianggap tidak humanis. Aktifis Islam sering dituduh hanya sibuk menjalin hablun-minallah (hubungan dengan Allah) dan mengabaikan hablun-minan-naas (hubungan dengan sesama manusia). Aktifis Islam hanya rajin ber-ibadah vertikal tapi lalai ber- ’amal sholeh horizontal yang kemudian bisa dirasakan manfaatnya bagi orang lain. Oleh karenanya, ketika aktifis Islam dikomparasi dengan aktifis agama lainnya –aktifis gereja misalnya- maka mereka sering dianggap asosial, sedangkan para aktifis gereja dianggap sangat berjiwa sosial sehingga dipandang lebih humanis ketimbang para aktifis Islam. Benarkah demikian?
Stereotype seperti di atas jelaslah tidak benar. Begitu banyak pesan dari Al-Qur’an maupun Hadits yang menganjurkan seorang muslim untuk peduli dengan sesama. Di antaranya sebagai berikut:

”… dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”. (QS Al-Isra ayat 23-24)

Bersabda Rasulullah shollallahu’alaih wa sallam : “Barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir hendaklah bicara yang baik atau diam. Dan barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir hendaklah menghormati tetangganya. Dan barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir hendaklah menghormati tamunya.” (HR Bukhary-Muslim).
Dan masih banyak sekali pesan-pesan seperti di atas yang intinya menyuruh seorang muslim untuk berbuat kebaikan kepada sesama saudaranya. Jelas ini merupakan jenis pesan yang menggambarkan betapa ajaran Islam mengandung jiwa kemanusiaan atau sebut sajalah bersifat humanis . Sehingga Rasulullah menegaskan bahwa kecintaan Allah kepada hambaNya sangat terkait dengan kebaikan hambaNya tersebut kepada sesama hamba Allah lainnya. Maka Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam bersabda:

“Manusia yang paling dicintai Allah ialah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya. Dan perbuatan yang paling disukai di sisi Allah ialah mendatangkan kebahagiaan kepada sesama muslim.” (HR Thabrani)

Namun demikian, ini tidak berarti bahwa ajaran Islam identik atau sama dan sebangun dengan faham humanisme. Suatu faham yang dewasa ini sangat berkembang di dunia modern, khususnya di kalangan orang-orang Barat atau orang-orang yang cara berfikirnya telah terbaratkan. Humanisme adalah suatu faham yang memandang bahwa manusia dan segenap aspirasinya merupakan hal yang paling penting di dalam kehidupan. Sehingga mulia-hinanya seseorang dinilai semata-mata pada perilaku baiknya kepada sesama manusia. Hal yang biasa diistilahkan dengan ” good deeds ” atau melakukan perbuatan terpuji. Humanisme tidak mengkaitkan perbuatan baik seseorang dengan Sang Pencipta, Allah Subhanahu wa ta’aala serta Hari Kemudian alias kehidupan akhirat. Yang penting orang berbuat baik, maka dia sudah dipandang sebagai seorang humanis atau moralis.

Islam mengajarkan bahwa perbuatan baik seseorang kepada sesama manusia baru akan benar-benar bernilai jika dilandasi dengan iman dan keyakinannya akan Allah dan kehidupan di Hari Kemudian alias akhirat. Jika ia berbuat baik namun tidak diiringi dengan keyakinan akan adanya Hari Berbangkit, maka perbuatannya menjadi sia-sia di mata Allah. Walaupun ia tetap akan mendapat manfaat di dunia, namun di akhirat perbuatannya tersebut tidak memberi kebaikan apapun bagi si pelaku. Mengapa demikian? Karena ibarat sebuah upaya entri ke dalam sebuah situs ekslusif di dunia maya, maka ia baru akan berhasil masuk jika ia mengetahui password-nya. Perbuatan kebaikan seseorangpun demikian. Bila ia berharap perbuatan baiknya memiliki dampak yang jauh hingga ke hari Berbangkit, maka sudah selayaknya ia berbuat segenap kebaikan dengan dilandasi iman kepada Allah dan Hari Akhir. Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam bersabda:

”Seorang kafir jika berbuat kebaikan di dunia, maka segera diberi balasannya di dunia. Adapun orang mu’min jika ber­buat kebajikan, maka tersimpan pahalanya di akherat di samping rizqi yang diterimanya di dunia atas keta’atannya.” (HR Muslim)

baca selengkapnya…

___
eramuslim
image: ownskin

Tentang Kecewa

ownskin

Ada banyak sekali soal yang mengecewakan hatiku. Ada banyak kejadian yang tidak sejalan dengan harapanku. Tapi ternyata kekecewaan bukan soal istimewa. Bukan soal besar dalam hidup. Baru ketika aku membesar-besarkan kekecewaanku itulah soal besar bagiku” Prie GS.

Sungguh ini tentang kecewa, kenapa saya hanya bisa mengutip tulisan orang lain saja hingga sadar ternyata diri ini tak mampu produktif.
Tapi kecewa ini tetap akan berupa kata, tak akan ada potensi wujud.

Gadanglah aia Banda Baru
Nampak nan dari Mandi Angin
Elok nan usang dipabaru
Pado mancari ka nan lain

#EdisiRandomYangPentingBlogUdahUpdate.


image by ownskin

Berani Zina Ketimbang Menikah

Assalamu’alaikum wr wb

hijriyan

Tidak ingin terpaksa menikah. Terpaksa kenapa ?? Ya, terpaksa menikah karena pihak wanita telah berbadan dua, dan pihak laki-laki mau tidak mau menikahi si wanita.
Kenapa bisa berbadan dua ?? Akibat dari pergaulan bebas antar lawan jenis atau zaman sekarang di kenal dengan pacaran. Jika dahulu, laki-laki dan wanita amatlah tinggi rasa malunya maka zaman sekarang rasa malu seperti sudah menguap.
Untuk membuktikan cinta saja harus dengan berhubungan layaknya suami istri, jika tidak mau maka di pertanyakanlah kesucian “cinta” nya itu. Atau jika sedang berduaan, maka rayuan syetan pun akan bertambah parah. Jika mengobrol saja sudah biasa, kemudian di lanjutkanlah hal yang “luar biasa”. Hasilnya, pernikahan dadakan pun banyak di gelar, takut bertambah besar perut si wanita jika tidak buru-buru. Masalah kesiapan siap atau tidak, pihak pelaku harus siap. Lah, melakukannya saja sudah sangat siap tanpa berfikir panjang apalagi jika harus menikah.
Bersyukur jika berakhir pada pernikahan, tapi amat di sayangkan karena dari banyak berita di media, tidak sedikit bayi-bayi yang di bunuh atau di telantarkan akibat hamil di luar nikah. Na’udzubillah.

Tidak usah berbicara siapa yang salah, siapa yang benar. Yang jelas ALLAH telah memperingatkan untuk tidak mendekati zina. Hebatnya sekarang zina memang sudah tidak pernah lagi di dekati alias langsung ke sasaran. Menjadikan pacar bak pasangan suami istri yang seluruh jiwa raga adalah mutlak milik sang pacar.
Jangan pula salahkan syetan yang telah membisikkan rayuannya, toh itu memang profesinya. Tapi kita sebagai muslim yang tata cara hidup kita telah di atur apik sedemikian rupa oleh ALLAH semestinya mau membuka hati menelaah setiap nasihat. Mendekat kearah kebaikan bukan malah menikmati kesesatan.
Memang ada-ada saja cara syetan menyesatkan. Jika hamil, maka si wanita harus di nikahi maka sekarang ada lagi produk (baca : kondom) yang tadinya hanya di gunakan untuk alat kontrasepsi bagi yang telah menikah menjadi bebas penjualannya. Mungkin untuk menaikkan tingkat penjualan atau ada sesuatu yang tersembunyi di balik itu semua.
Hasilnya, semakin bebaslah pergaulan lawan jenis. Dahulu masih ada rasa takut (mungkin) jika mereka melakukan sesuatu yang di larang, maka kini tidak lagi. Toh, sudah ada “pelindung”. Berapa kali pun mereka menjalani hubungan layaknya suami istri, tidak akan terlihat bekasnya.
Tidak berlebihan jika pacaran sangat identik dengan pergaulan bebas.
Mungkin tidak semua dan semoga tidak semua. Tapi hal-hal bebas semacam itu tidak akan terendus orang lain kecuali hanya pelaku dan ALLAH saja yang tau. Hanya ALLAH, tetapi gumpalan nafsu tidak menghendaki rasa takut kepada ALLAH untuk timbul dalam hati pelaku dan mengurungkan niat buruknya.
Mereka yang masih berada dalam hubungan pacaran dan menentang tulisan saya dan mengatakan bahwa tidak semua yang berpacaran melakukan hubungan terlarang itu. Saya patut mensyukuri pernyataan itu, dan semoga pula mereka yang menentang, tidak mendekati hal-hal kecil yang juga terlarang yang lambat laun bisa menimbulkan percikan nafsu.
Kepada mereka yang bangga dengan pasangan tidak halalnya. Maka bagi kita yang memilih untuk sendiri sebelum menikah, juga mengumandangkan kebanggaan kita. Kita bangga menjadi tuli akan rayuan syetan, Kita bangga menjaga kesucian meskipun tersisih. Kita yang menjadi jomblo sebelum menikah karena pilihan. Bisa saja kita memilih mengikuti jejak mereka untuk berpacaran, memilih satu di antara mereka yang menyukai kita . Tapi kita lebih suka memilih keridhoan ALLAH. Lebih suka menyibukkan diri dengan belajar dan mendekatkan diri kepada ALLAH. Bukan menyibukkan diri dengan keluh kesah dan air mata di atas label cinta semu.

Kita yang selalu yakin bahwa ALLAH menciptakan segala sesuatu berpasangan termasuk manusia. ALLAH yang akan memberi ganjaran indah kepada yang sabar menjaga kesucian. Aamiin.

Allahua’lam

(pengingat bagi kita terutama diri pribadi)


sumber: eramuslim.

Penulis: Kiptiah
Judul Asli: Karena Kita Tak Ingin Terpaksa Menikah

Tulisanmu, Pedangmu

ownskin.com

Assalamu’alaykum wr wb

Kita tahu betapa cepatnya lisan ketika meluncur, bahkan kecepatan berfikir dapat didahului oleh gerakan lidah tak bertulang ini, maka potensi kesalahan bicara akan sangat mungkin terjadi. Terkadang gerakan lisan lebih cepat dari proses berfikir, apalagi ketika emosi, jika sudah keceplosan, maka sulit sekali tuk di rem bahkan ditarik kembali, sedangkan orang lain sudah terlanjur sakit hati.
Namun beda dengan menulis, apa yang akan kita utarakan, apa yang ingin diucapkan dapat kita fikirkan terlebih dahulu ,dirangkai, diedit, dipilih kata-katanya dan menimbang kebenarannya maupun memperkecil kesalahan (jika kita mempunyai sifat hati-hati dan menjaga dari kesalahan). Bagi sebagian orang, menulis merupakan suatu kegiatan yang sangat menyenangkan bahkan dapat menjadi sebuah profesi yang menjanjikan. Dengan keahlian yang dimiliki, apapun bisa di tuliskan dan tidak sedikit yang menjadi bahan pemikiran baru yang berdampak pada kemajuan dalam berbagai bidang. Namun banyak juga yang luput dari kewaspadaan dan perhatian seorang penulis dalam menulis.

Sebagai seorang penulis dan seorang Muslim, Sudah seharusnya orientasi kita dalam menulis dan nilai-nilai yang dijadikan bahan harus yang bermanfaat dan sesuai dengan aturan-aturan agama, baru setelah itu menuju ke kreatifitas. Namun di sisi lain, kita hidup tak terlepas dari norma sosial, agama maupun hukum yang berlaku dalam suatu negri. Maka terkadang timbul kerancuan untuk menyatukan antara satu dengan lainnya. Tak jarang suatu tulisan bisa saling berbenturan dalam menerapkan nilai-nilai di dalamnya, tergantung lebih kuat mana seseorang menjunjung nilai pada salah satunya.

Dalam Islam semua aspek kehidupan tak dapat di pisah-pisahkan dari aturan agama, semua harus mengacu dan berorientasi pada kebenaran mutlak hukum agama. Apapun profesi dan pemikirannya harus mempunyai dasar atas hukum yang berlaku, karena dalam Islam sendiri adalah aturan hidup dan cara berfikir yang sudah terkonsep dengan baik. Seorang Muslim adalah orang yang berserah diri dan ikhlas dgn kesadaran penuh di bawah peraturan hukum agama dan tak ada tawar menawar di dalamnya, karena itulah konsekwensi bagi seseorang yang sudah memilih untuk beragama Islam.

Inilah yang menjamin seorang Muslim mendapat keselamatan, yaitu tunduk atas segala larangan dan perintah.
Seorang penulis, penulis apa saja dari penulis terkenal maupun seorang penulis dinding jejaring sosial, baiknya harus mempunyai landasan agama dalam menyampaikan. Menulis juga seperti berbicara, yang efeknya dapat langsung mengena kepada pembaca bahkan impactnya lebih kuat dan lebih cepat menyebar. Bayangkan jika saja satu kata ajakan keburukan atau satu fitnah terlontar lalu menyebar dan dibaca oleh ratusan bahkan ribuan orang, lalu dari hari terus makin bertambah dan bertambah,dan mereka terus mengikuti seperti apa yg kita tuliskan, maukah kita menanggung dosanya tanpa mengurangi sedikitpun perbuatan buruk orang lain akibat ajakan dari kita?

Jika ajakannya kepada kebaikan maupun hal yg bermanfaat tentu itu suatu keuntungan buat kita, namun jika sebaliknya? Ini seperti efek mata rantai yang saling terkait satu sama lain dan tentunya jika rantai digantungkan, bagian rantai teratas akan menahan beban yang akan lebih berat dan menanggung smua beban yang ada dibawahnya.

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda :
“Barangsiapa yang menyeru kepada kebaikan, maka dia mendapatkan pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala-pahala mereka sedikitpun. Dan barangsiapa yang menyeru kepada kesesatan, maka baginya dosa seperti dosa orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa-dosa mereka sedikitpun”. (Muslim. dalam kitab shahihnya no 2674)

Berhati-hatilah dalam menulis, menulis novel cinta, artikel, opini maupun buah pemikiran, hendaknya jika kita seorang Muslim, sudah menjadi keharusan untuk mengikuti aturan-aturan agama tanpa melanggar hal yang dilarang namun nilai kreatifitas itu sendiri bisa tetap terjaga, sehingga keberuntungan dan keselamatan akan kita dapatkan.

“Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan satu kata yang diridhai ALLAH SWT yang ia tidak mengira yang akan mendapatkan demikian sehingga dicatat oleh ALLAH SWT keridhaan-NYA bagi orang tersebut sampai nanti hari kiamat. Dan seorang lelaki mengucapkan satu kata yang dimurkai ALLAH SWT yang tidak dikiranya akan demikian, maka ALLAH SWT mencatatnya yang demikian itu sampai hari kiamat.” (HR Tirmidzi dan ia berkata hadis hasan shahih; juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah)

baca selengkapnya….

Image: ownskin
Original Post: eramuslim